Sebelas Anak Ikuti Khitan Bareng BIMa
09 Apr 2021 892
<h1 class="post-title">Sebelas Anak Ikuti Khitan Bareng BIMa</h1>
<p><small class="text-muted">Minggu, 21 Maret 2021 - 23:10 | Views: 15.74k</small></p>
<div class="amp-hidden" placeholder="" style="background-color: rgb(255, 255, 255);"><img alt="AddThis Website Tools" class="i-amphtml-fill-content i-amphtml-replaced-content" src="https://cache.addthiscdn.com/icons/v3/thumbs/32x32/addthis.png" />
<div class="i-amphtml-svc i-amphtml-loading-container i-amphtml-fill-content">
<div class="amp-active i-amphtml-loader-background">
<div class="i-amphtml-new-loader">
<div class="i-amphtml-new-loader-logo"> </div>
<div class="i-amphtml-new-loader-spinner-wrapper"><svg class="i-amphtml-new-loader-spinner" viewbox="0 0 48 48"></svg></div>
<div class="i-amphtml-new-loader-spinner-wrapper"> </div>
</div>
</div>
</div>
</div>
<div class="my-3 p-3 bg-white rounded box-shadow"> </div>
<div class="pb-3"><img class="i-amphtml-fill-content i-amphtml-replaced-content" src="https://cdn.timesmedia.co.id/images/2021/03/22/Khitanan-Massa.jpg" />
<div class="small bg-dark text-light p-1">Suasana khitanan yang diselenggarakan oleh LKS atau Panti Asuhan Bina Insan Mandiri (BIMa) di Desa Argorejo, Sedayu, Bantul, Yogyakarta, Minggu (21/3/2021). (FOTO: Fajar Rianto/TIMES Indonesia)</div>
</div>
<div style="text-align: center;">
<div> </div>
</div>
<p><strong>TIMESINDONESIA, YOGYAKARTA</strong> – Suasana markas Lembaga Kesejahteraan Sosial (LKS) atau <a href="https://www.timesindonesia.co.id/tag/Panti-Asuhan-Bina-Insan-Mandiri">Panti Asuhan Bina Insan Mandiri</a> (BIMa) di Desa Argorejo, Sedayu, Bantul, Yogyakarta nampak berbeda dari biasanya, Minggu (21/3/2021). Ya, hari itu sebanyak 11 anak sedang antri giliran untuk mengikuti kegiatan <a href="https://www.timesindonesia.co.id/tag/khitan">khitan</a> yang diselenggarakan panti asuhan tersebut. Sang tukang khitannya adalah H. Suryana A. MD Kes bersama putranya Yogi Surya Husada.</p>
<p>“Dari 11 anak yang dikhitan, 6 diantaranya berasal dari Kabupaten Bantul, 4 anak dari Sleman, dan 1 Anak dari Gunungkidul,” kata Pengurus LKS/Panti Asuhan BIMa, Agus Darmanto. Acara tersebut juga didukung oleh TIMES Indonesia, media berjaringan no. 1 di Indonesia dan CV Etaprima Karya.</p>
<div style="text-align: center;">
<div> </div>
</div>
<p>Agus menerangkan, peserta yang ingin mengikuti khitan sebenarnya lebih dari 11 anak. Namun, sejumlah anak dari Kabupaten Sleman mengundurkan diri. Sebab, diantara mereka ada yang percaya bahwa pada bulan Ruwah atau Sya'ban tidak diperkenankan mengikuti sunatan.</p>
<p><img class="i-amphtml-fill-content i-amphtml-replaced-content" src="https://cdn.timesmedia.co.id/images/2021/03/22/Khitanan-Massal.jpg" /></p>
<p>“Semula yang daftar jumlahnya lebih dari itu. Namun anak-anak dampingan dari wilayah Sleman sebagian ada yang mengundurkan diri karena masih adanya kepercayaan di kampung mereka, pamali di sunat saat bulan Ruwah atau Sya'ban,” jelas Agus.</p>
<p>Agus menyampaikan terima kasih kepada pihak yang telah ikut mendukung kegiatan tersebut. Terutama kepedulian keluarga besar Bong Supit yaitu Suryono atau Suryana. “Di lain kesempatan kami akan menyelenggarakan khitanan lagi,” terang Agus.</p>
<p>Suryana mengaku menekuni profesi sebagai tukang sunat/juru khitan sudah 25 tahun. Lokasi prakteknya di Klinik Pratama Aswaja Jalan Kebon Agung KM 8, Bedingin, Sumberadi, Mlati, Sleman.</p>
<p>Selama pandemi Covid-19 ini, dirinya sering didatangi pasien untuk minta dikhitan. Bahkan, diantara pasien banyak dari keluarga kurang mampu. Bagi keluarga kurang mampu, ia pun tidak mematok tarif. Bahkan, sering memberikan gratis bagi anak dari keluarga miskin.</p>
<p>“Sementara anak jika sudah tiba masanya di sunat maka harus segera di sunat. Tidak bisa ditunda. Saya senang dapat membantu anak yang menjalan sunnah nabi,” jelas pemilik nama lengkap Suryono Suryo Husodo ini.</p>
<p>Di tengah pandemi Covid-19, ia pun mengusulkan kepada pemerintah menyelenggarakan sunatan massal bagi anak dari keluarga mampu. Sebab, wabah corona ini banyak orang tua yang kehilangan pekerjaan sehingga kesulitan ekonomi dan tidak mampu membiayai khitan bagi anaknya.</p>
<p>“Tentu, kegiatan khitan tetap harus menerapkan protokol kesehatan,” terang anggota DPRD Sleman ini.</p>
<p>Disinggung mengenai bagaimana menghadapi anak yang rewel ketika anak dikhitan? Suryana menjelaskan, dirinya memiliki trik tersendiri saat menghadapi anak yang rewel. Selain menggunakan metode laser, ia menggunakan cara hipnotis dalam melaksanakan aksinya.</p>
<p>“Untuk anak yang rewel, akan kita hipnotis. Insya Alloh menjadi tenang dan tertidur, dan akan terbangun setelah selesai di sunat,” terang politikus Partai Golkar ini.</p>
<p>Meski bersifat sosial, karena khitanan masal ini di gratiskan. Namun tindakan yang dilakukan tetap sesuai SOP seperti yang biasa dilakukandi tempatnya praktek termasuk kualitas obat- obatan yang diberikan. Dalam kegiatan ini, Suryana dibantu putranya yaitu Yogi Sura Husada dan istrinya yang terlibat dalam proses pembagian obat. Tak butuh waktu lama, dengan trampilnya ia melakukan proses sunatan pada 11 anak binaan maupun dampingan LKS/Panti Asuhan BIMa. </p>
<p>Peserta khitan, Faris, 10 tahun, warga Singojayan, Moyudan, Sleman mengaku sudah lega telah dikhitan. Didampingi kakeknya bernama Sapari, siswa kelas 4 SD ini juga mengaku tidak sakit saat di sunat. Perasaan senada disampaikan Fiky Briliana, 9 tahun. Kegiatan <a href="http://www.timesindonesia.co.id/tag/Panti-Asuhan-Bina-Insan-Mandiri">Khitan Bareng BIMa</a> ini diikuti sebanyak 11 anak. <strong>(*)</strong></p>
<p>telah tayang di https://timesindonesia.co.id/read/news/335561/dengan judul Sebelas Anak Ikuti Khitan Bareng BIMa, <small class="text-muted">Minggu, 21 Maret 2021 - 23:10 | Views: 15.74k</small></p>
<hr />
<table> <tbody> <tr> <td><strong>Pewarta</strong></td> <td>: Fajar Rianto</td> </tr> <tr> <td><strong>Editor</strong></td> <td>: Wahyu Nurdiyanto</td> </tr> <tr> <td><strong>Sumber</strong></td> <td>:</td> </tr> </tbody>
</table>
<table> <tbody> <tr> <td> </td> </tr> </tbody>
</table>