PROGRAM DAPUR BUDE: MODEL PEMBERDAYAN MASYARAKAT MISKIN DAN TERDAMPAK PANDEMI COVID-19 DIDIY

PROGRAM DAPUR BUDE: MODEL PEMBERDAYAN MASYARAKAT MISKIN DAN TERDAMPAK PANDEMI COVID-19 DIDIY

29 Aug 2020 787
<p align="center"><strong>&nbsp;PROGRAM DAPUR BUDE: MODEL PEMBERDAYAN MASYARAKAT MISKIN DAN TERDAMPAK PANDEMI COVID-19 DIDIY </strong></p> <p align="center"><strong>Oleh. Istiana Hermawati </strong></p> <p align="center"><strong>(Peneliti Ahli Utama Bidang Pelayanan Kesejahteraan Sosial, Kepakaran Pengentasan Kemiskinan; Pendiri dan Ketua Umum LPPM Bina Insan Mandiri Yogyakarta).</strong></p> <p>&nbsp;</p> <p>DAPUR BUDE merupakan model pemberdayaan masyarakat berbasis potensi lokal dalam rangka menunjang ketahanan pangan warga miskin (kurang sejahtera) dan terdampak COVID-19. Model ini dibangun berdasar hasil riset berjudul &ldquo;<em>Dampak Ekonomi Sosial Akibat Pandemi COVID-19 Bagi Keluarga Kurang Sejahtera dan Kelompok Rentan di DIY</em>&rdquo; yang peneliti lakukan pada awal Pandemi COVID-19 (periode Maret s.d Mei 2020)<em>. </em>Pada saat itu, untuk mencegah menularnya virus corona, pemerintah mengambil kebijakan agar masyarakat melakukan <em>social distance, stay at home</em> dan menerapkan protokol kesehatan, bahkan di beberapa wilayah menerapkan kebijakan <em>&ldquo;Lock down&rdquo;</em>. Kepada ASN-pun pemerintah menerapkan sistem kerja <em>work from home</em> (WFH) dan sistem piket (shift). Pada saat melaksanakan WFH itulah penelitian ini dilaksanakan.</p> <p>Mengingat subyek penelitian ini keluarga miskin dan kelompok rentan (yang mayoritas berpendidikan rendah, bekerja di sektor primer sebagai petani dan sektor informal, berpenghasilan pas-pasan, dan jarang yang memiliki HP android, kalau toh mereka pakai HP hanya sekedar untuk komunikasi), maka tidak mungkin penelitian ini dilakukan secara online dengan menggunakan aplikasi google form. Berkenaan dengan hal tersebut maka bismillah peneliti memutuskan untuk melakukan riset secara manual, ketemu langsung dan mengadakan wawancara dengan responden sehingga dapat mengukur dampak sosial ekonomi yang responden hadapi pada saat pandemi COVID-19. Dalam pengumpulan data, peneliti tidak bekerja sendiri, namun dibantu pendamping lokal yang dibekali dan difungsikan sebagai enumerator pengumpul data. Penelitian dilakukan dengan menggunakan pendekatan gabungan (<em>mix methods</em>), responden ditentukan dengan teknik <em>purposive random sampling</em>, diambil secara acak 30 orang per Kabupaten/Kota di DIY sehingga terkumpul 150 responden. Secara terpisah, kami juga melakukan pengumpulan data terhadap 60 penyandang disabilitas produktif di Kabupaten Sleman dan Kabupaten Bantul. Teknik pengumpulan data menggunakan angket dan panduan wawancara. Semua kegiatan penelitian didanai secara mandiri, namun dalam pelaksanaan pengumpulan data Peneliti berkolaborasi dengan kegiatan BIMa dalam menyalurkan</p> <p>Hasil lapangan yang kami peroleh saat itu cukup mengejutkan, 63% Keluarga Miskin yang kami teliti belum tersentuh program bansos apapun (seperti Program Keluarga Harapan, Bantuan Pangan Non Tunai ataupun Program Sembako); 81,66% pekerja yang tadinya menekuni pekerjaan sebagai buruh dan sektor informal, 66,11% di antaranya menjadi pengangguran, sementara kegiatan yang masih jalan mengalami penurunan omzet sekitar 40-80%; 56,33% keluarga responden sebelum COVID-19 memiliki penghasilan antara Rp.600.000 s.d 1.800.000,-. Setelah terjadi COVID-19, 82,3% responden memiliki penghasilan kurang dari Rp. 600.000,-. Secara kualitatif masyarakat juga merasa beban hidupnya semakin berat, merasa kesulitan dalam memenuhi kebutuhan pangan dan dalam menyediakan pulsa untuk belajar anak secara online. Kondisi ini sangat memprihatinkan dan perlu dicarikan solusi segera.</p> <p>&nbsp;</p> <p>Bertitik tolak dari temuan penelitian tersebut, peneliti bersama sejumlah pengurus merumuskan model yang tepat untuk memberdayakan masyarakat terdampak COVID-19, sehingga tersusun konsep MODEL DAPUR BIMa. Untuk mengujicoba model, kami bekerjasama dengan beberapa relawan/pendamping lokal. Inti dari MODEL DAPUR BIMa adalah support bahan pangan untuk keluarga miskin/terdampak COVID-19, dengan harapan bantuan tersebut dapat dimasak, sebagian dimakan keluarganya, dan sebagian yang lain dibagikan kepada tetangga/masyarakat sekitar yang terdampak COVID-19 (kena PHK, tidak dapat bekerja) dan Penyandang Masalah Kesejahteraan Sosial di sekitarnya (seperti lansia, penyandang disabilitas, ODGJ, yatim/piatu dan dhuafa). Tujuan yang ingin dicapai dari model ini adalah mengatasi masalah mendesak (pemenuhan kebutuhan pangan keluarga penerima manfaat) terdampak COVID-19; menumbuhkan solidaritas, kepedulian dan tanggungjawab sosial di antara penyandang masalah kesejahteraan sosial dan menjalin sinergitas LPPM BIMa dengan berbagai pihak terkait, terutama dalam upaya pengentasan kemiskinan dan peningkatan kesejahteraan keluarga miskin.</p> <p>Pada awal Juni, dilakukan uji-coba dua DAPUR BUDE. Rata-rata per dapur bisa melayani sekitar 20-30 penerima manfaat/minggu. Dengan demikian, satu dapur bisa melayani sekitar 80-120 penerima manfaat/bulan. Semakin hari permohonan dari masyarakat dampingan untuk membuka &ldquo;DAPUR BUDE&rdquo; semakin bertambah, hingga akhir Juni DAPUR BUDE berkembang menjadi 10 DAPUR dan telah melayani 1.232 penerima manfaat. Sampai bulan Juli 2020 jumlah DAPUR BUDE terus bertambah menjadi 15 DAPUR BUDE dan 4 DAPUR mandiri (tanpa support dari LPPM BIMa, tapi berjuang sebagai bagian dari LPPM BIMa), dan telah melayani sekitar 1760 penerima manfaat. DAPUR BUDE ini tersebar di 4 Kabupaten dan Kota di DIY, namun mayoritas (10 DAPUR berlokasi di Bantul). Sasaran yang dilayani meliputi: keluarga miskin/tanpa penghasilan, penyandang disabilitas, yatim piatu/dhuafa, lanjut usia, orang dengan gangguan jiwa, orang dengan penyakit kronis, pekerja sektor informal (tukang sampah, pedagang kecil di pasar), dan sebagainya.</p> <p>Yang melegakan, model ini ternyata mampu menggerakkan banyak pihak untuk berpartisipasi. Seringkali, DAPUR BUDE di beberapa wilayah mendapat support bahan makanan dari masyarakat sekitarnya atau simpatisan yang lain. Pada saat bahan-bahan tersebut diolah, alhamdulillah dapat menjangkau dan melayani penerima manfaat yang lebih banyak. Bahkan, beberapa DAPUR dapat memberikan pelayanan 2-3 kali per minggu kepada penerima manfaat. Pedagang-pedagang di pasar juga sering berpartisipasi mengirimkan bumbu, sayuran, atau apa yang mereka punya untuk membantu meringankan beban saudara-saudaranya yang terdampak COVID-19. Kami juga secara rutin mendapat kiriman sayur mayur dari Boyolali melalui Gerobak Dakwah dan diteruskan ke LPPM Bina Insan Mandiri, dapat kiriman sembako dari hotel Poenix, dapat support peralatan masak dan kompor dari BPR Mitra Harmoni, Nasi box dari Simpul Sedekah, dapat kiriman beras, bumbu, buah, sayur dan sebagainya dari perorangan. Bahkan, para difabel yang kami dampingi juga tidak mau kalah, mengirim telur asin, tempe dan lainnya untuk mendukung program ini.&nbsp;</p> <p>Dukungan itu mengalir karena adanya kepercayaan (<em>trust</em>), ketulusan dan tujuan yang sama antara peneliti, LPPM BIMa, Pemerintah, dunia usaha, NGO, masyarakat dan juga mass media untuk bersinergi dalam memberikan layanan terbaik kepada saudara-saudara kita yang membutuhkan. Perlu kami sampaikan, bahwa pada periode Maret LPPM Bina Insan Mandiri mendampingi 836 anak yatim/piatu (Panti/luar panti), 510 lansia, 200 penyandang disabilitas dan 180 Orang dengan gangguan jiwa) di DIY (4 Kabupaten/1 kota), Jateng (Klaten, Jepara, Temanggung, Purwokerto), dan Lampung Timur.</p> <p>Berkenaan dengan hal tersebut, pada kesempatan ini kami sebagai peneliti sekaligus pendiri dan ketua umum LPPM BIMa mengucapkan terima kasih kepada berbagai pihak atas kerjasama yang telah terjalin selama 18 tahun melalui berbagai program layanan, baik yang bersifat panti maupun non-panti, pelayanan langsung maupun tidak langsung, yang kesemuanya mengarah pada tujuan utama yakni meningkatkan kesejahteraan masyarakat.</p> <p>Dengan hadirnya program DAPUR BUDE kali ini, kami berharap para penyandang masalah kesejahteraan sosial, terutama yang berada di Kabupaten Bantul semakin terlayani dengan baik. Program ini merupakan dedikasi kami sebagai peneliti dan penggiat kegiatan sosial kemasyarakatan bersama para relawan lintas profesi dan lintas ilmu dalam penanganan masalah kesejahteraan sosial yang secara kuantitas dan kualitas semakin meningkat pada era pandemi COVID-19. Semoga apa yang kami lakukan bisa berkelanjutan dan semoga semua ikhtiar dan dukungan yang bapak/ibu berikan dalam bentuk apapun dicatat Allah swt sebagai ibadah yang diridhoi.</p> <p>Terakhir, kami mohon maaf atas segala keterbatasan kami dalam melayani bapak/ibu/hadirin. Pernyataan terakhir yang kami sampaikan, <em>jangan menunda perbuatan baik, jangan menunggu kaya atau mapan baru mempedulikan sesama, saudara-saudara kita yang membutuhkan perlu ditopang segera agar tetap bertahan hidup, agar dapat segera bangkit dari keterpurukan, dan agar dapat mengupayakan kebaikan juga bagi sesamanya</em>. Dengan bersatu kita mampu, insya allah..</p> <p>&nbsp;</p> <p>Sedayu, 5 April 2020</p> <p>&nbsp;</p>